Sabtu, 30 Maret 2013

Puisi - Indonesia (4)

KRAWANG-BEKASI
Karangan Chairil Anwar 
 
 
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Cerpen - Bahasa Indonesia (4)

Kelopak mata Topo belum sepenuhnya terbuka, kelopak matanya masih separuh terbuka. Ia mengucek matanya yang lengket akibat belek yang dengan punggung tangannya, tahi mata yang mengeras itu kemudian rontok seperti upil yang dikorek oleh jemari. Kini Topo tidak lagi merem melek, kedua kelopak matanya sudah benar-benar terbuka. Sempurna.

Ia lalu menguap melenguh menuntaskan sisa kantuk yang masih menggantung, mulutnya mengeluarkan bunyi dan aroma yang tidak sedap, untuk didengar apalagi diendus. Topo bangkit dari ranjangnya meninggalkan suara deritan yang membuat ngilu pendengaran. Rupanya ranjang besi Topo perlu juga dilumeri gemuk atau oli, tapi ia tidak peduli. Ia masih bisa tidur nyenyak dan tidur lebih lama di ranjang berderit itu. Begitulah Topo, untuknya tidak penting tempat tidur yang bagus, yang penting kualitas tidurnya. Falsafah tidur yang cukup bermakna.

Topo bergeliat merenggangkan pinggangnya ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang, juga meninggalkan suara gemeretek, tanda tulang belulang Topo perlu juga dilumeri kalsium, bukan gemuk atau oli. Tapi pagi ini ia tidak butuh kalsium, apakah yang bersumber dari susu atau biji kedelai. Tidak penting baginya minum susu kalsium. Pagi ini, ia hanya ingin segelas kopi panas, pahit boleh, manis lebih mantap.

Sedikit berjalan malas, Topo mencapai meja makan. Tetapi tidak ditemukan segelas kopi panas yang ia inginkan, hatinya agak sedikit geram. Apa saja kerja istriku pagi ini, rutuknya, menyediakan segelas kopi panas saja tidak becus! Namun Topo bukanlah tipe lelaki yang mudah mengeluarkan bentakan atau teriakan untuk perempuan, apalagi perempuan itu istrinya. Ia hanya ngedumel, itu pun dalam hati.

Istriku kemana? tanyanya lirih.

Topo beranjak ke dapur, tidak ditemukan Narti istrinya di dapur. Topo kembali ke meja makan, lalu ke halaman depan rumah, Narti tidak ada juga di situ.

Kemana istriku pagi-pagi begini? gerutunya sambil menggaruk kepala.

Topo sejenak tertegun di bawah kusen pintu rumahnya. Pandangannya tertuju ke arah tiang bendera yang berdiri doyong ke kiri dari tempatnya berdiri. Akan tetapi perhatian Topo bukanlah tertuju kepada tiang bendera yang doyong ke kiri itu.

Walah! Kemana benderanya? teriak Topo terkejut sendiri.Topo lalu mendekati tiang bendera itu, dengan cermat diperhatikannya tanda-tanda di sekitar tiang bendera itu. Tidak ada tanda-tanda pencurian, bendera merah putih yang kemaren sore ia kibarkan di tiang bambu itu lenyap.

Apa mungkin tali pengikatnya lepas? katanya bertanya dalam hati. Tetapi kalau tali pengikatnya lepas terbawa angin, pasti masih ada sisa tali di ujung tiang ini, batinnya.

Masih diliputi tanda tanya hilangnya bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumahnya , pandangan mata Topo mengedari halaman rumah tetangganya. Betapa sangat terkejutnya ia, semua tiang bendera di rumah tetangganya pun tanpa kibaran merah putih.

Gawat ini! Gawat-gawat-gawatKeterlaluan ini, hari ini khan tanggal 17 Agustus, kenapa tetanggaku tidak mengibarkan bendera merah putih, kenapa mereka tidak mengibarkan sang merah putih. Apakah rasa nasionalisme orang-orang Indonesia jaman sekarang termasuk tetanggaku, sudah pupus, sudah mampus?! katanya geram.

Topo masih berpikir, kalau begitu kemaren sore hanya dirinya yang memasang bendera merah putih di tiang bendera rumahnya. Tetapi kenapa bendera merah putih yang ia kibarkan kemaren sore, pagi ini ikut hilang? 

Apakah ada orang yang benci kepadaku karena aku satu-satunya warga yang memasang bendera di halaman rumahku? katanya membatin wajah berubah muram.

Ke mana rasa nasionalisme orang-orang di lingkunganku, di mana rasa menghormati jasa-jasa para pahlawan pembela tanah air dari penjajahan? Dan apa susahnya hanya memasang setahun sekali sebuah bendera merah putih, untuk sekadar merayakan bahwa negara ini sudah merdeka bertahun-tahun lamanya! Topo benar-benar kesal atas hilangnya bendera miliknya dan tentu saja dengan perilaku tetangganya yang anasionalis

###

Topo bukanlah terlahir sebagai anak seorang pejuang, apalagi anak seorang pahlawan atau tentara. Topo hanya seorang lelaki berusia empat puluhan yang sewaktu masih kanak-kanak sempat mengikuti sebuah organisasi kepanduan, Pramuka namanya. Hanya dari kegiatan kepramukaan kemudian ia mengerti sedikit tentang nasionalisme dan kebanggaan sebagai warga negara suatu bangsa yang merdeka. 

Ekspresi rasa nasionalis dan wujud perayaan kemerdekaan Indonesia secara rutin, setiap tahunnya, ia lakukan dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman rumahnya. Topo bukan juga Ketua RT atau RW apalagi Lurah di kampung ini, sehingga ia tentu tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintahkan warga mengibarkan bendera merah putih. Sama sekali bukan.

Gara-gara benderanya hilang dan ia tidak melihat satupun bendera yang berkibar di lingkungannya lelaki ini sampai lupa kekesalan terhadap istrinya Narti yang tidak menyediakan segelas kopi panas, dan juga ia lupa mencari tahu keberadaan Narti yang sempat ia cari-cari tadi.

Aku harus mencari tahu, kenapa warga di sini tidak satupun yang memasang bendera, dan kenapa juga bendera yang telah kupasang kemaren hilang dari tiangnya! 

Topo melangkah keluar dari pekarangan rumahnya, ia bermaksud untuk menuju rumah ketua RT yang hanya berjarak beberapa rumah dari kediamannya. Sepanjang jalan menuju rumah kediaman ketua RT, ia tidak melihat satu pun warga yang berada di pekarangan atau di jalanan, ia juga sama sekali tidak melihat kemeriahan peringatan atau perayaan 17-an di jalan kecil ini. Tidak ada umbul-umbul, tidak ada bendera-bendera kecil yang biasanya diikatkan di seutas tali lalu dibentangkan di atas jalanan bersilang-silang. Suasana jalan ini terasa begitu lengang. Seperti hari biasa, tidak ada sesuatu yang istimewa.

Sampailah Topo di sebuah rumah bercat hijau lumut dengan pagar besi tempa berwarna hitam legam. Rumah Pak Bandi, ketua RT. Ia membuka pintu pagar, lalu berdiri di depan teras rumah Pak Bandi yang asri, banyak tanaman hias di pekarangan depan rumah Pak Bandi dan terdapat sebuah sangkar burung perkutut berikut seekor burung tergantung di atas kanopi teras. Rumah Pak Bandi sama juga dengan rumah warga yang lain tanpa kibaran bendera, semakin penasaran ia untuk bertemu dengan pejabat RT ini.

Assalamualaikum..! teriak Topo memberi salam ke empunya rumah. Ia mengulang salamnya, karena salam pertama tidak ada jawaban dari sang empunya rumah. Topo melihat sebuah tombol bel. Sedetik kemudian ia memencet tombol bel itu. Ding-dong! bunyi suara bel cukup keras.

Seseorang membukakan pintu, seorang pemuda. Wajah pemuda ini tidak dikenal olehnya. Mungkin kerabat atau keponakan Pak Bandi yang sedang menginap di rumah ini, batin Topo. Pemuda belasan tahun itu pun memandangnya dengan tatapan heran. Pandangan yang mencurigainya, ia menatap Topo dari ujung kaki sampai kepala.

Ya, saya buru-buru ke sini makanya hanya memakai sandal jepit dan tidak sempat menyisir rambut, kata Topo sedikit risih menyikapi tatapan penuh curiga pemuda itu kepadanya.

Maaf, Bapak ini siapa? Dan mau apa ke sini? tanya Pemuda itu.

Pak Bandi, mana Pak Bandi? Saya mau bertemu Pak Bandi! jawab Topo sekenanya.

Maaf, mungkin Bapak salah alamat, kata pemuda itu singkat hendak menutup pintu rumah.

Eeeit, jangan ditutup dulu. Pak Bandi mana? kali ini nada bicara Topo agak sedikit tinggi. Saya ini warga di sini, juga teman Pak Bandi. Mana beliau? lanjut Topo sedikit menjelaskan. Mungkin pemuda ini sudah dititipkan pesan oleh Pak Bandi apabila ada tamu yang tidak dikenal atau orang asing agar jangan berlama-lama bercakap-cakap, bisa-bisa dihipnotis atau dirampok misalnya. Dan pemuda ini menjalankan tugasnya dengan baik.

Maaf Pak, Bapak salah alamat! kata pemuda itu ketus dan menutup pintu dengan keras.

Kurang ajar anak muda itu! batin Topo masih terpaku di depan pintu rumah Pak Bandi. Burung perkutut yang sedari tadi diam mulai berkicau karena kaget mendengar bunyi daun pintu yang ditutup keras.

Topo lalu menggedor pintu rumah Pak Bandi sedikit keras. Gedoran itu rupanya menimbulkan suara yang berisik. Beberapa saat kemudian rumah-rumah lain yang berada di sekeliling rumah Pak Bandi pintunya terbuka dan diikuti oleh empunya rumah masing-masing keluar. Mereka memandang heran ke rumah Pak Bandi. Topo masih berdiri di teras rumah itu sambil mengetuk-ngetuk pintu. Ia tidak sadar bahwa tetangga yang lain merasa terusik dengan perbuatannya itu.

Menyadari kelakuannya yang keterlaluan, ia berhenti menggedor pintu rumah Pak Bandi. Topo merasa beberapa pasang mata telah menatapnya dari kejauhan. Topo berpaling ke arah sebuah rumah yang tepat berada di depan rumah Pak Bandi, itu rumah Pak Trisno yang bekerja di PLN, tetapi bukan Pak Trisno yang ia lihat keluar dari rumah atau istri Pak Trisno atau anak-anak Pak Trisno. Topo melihat seorang perempuan muda berdiri menatapnya dari depan rumah Pak Trisno. Tatapan perempuan itu sama dengan tatapan penuh tanya dan heran pemuda yang muncul dari dalam rumah Pak bandi.

Siapa perempuan itu? Topo bertanya dalam hati.  

Perempuan berusia muda itu mengangguk dan tersenyum sedikit saat membalas tatapan Topo yang masih berdiri bingung. Topo kemudian keluar dari pekarangan rumah Pak Bandi menuju rumah Pak Trisno. Perempuan itu mungkin saudara Pak Trisno, ia cukup ramah, batin Topo.

Dik, maaf saya mau ketemu Pak Trisno. Tolong panggilkan beliau ya! kata Topo penuh harap. Topo ingin bertanya kepada Pak Trisno, apakah ia tahu keberadaan Pak Bandi ketua RT dan sekaligus ia ingin bertanya kenapa Pak Trisno tidak memasang bendera merah putih hari ini.

Bapak ini siapa dan dari mana? tanya perempuan muda itu.

Bilang saja Topo! jawabnya singkat.

Tapi maaf Pak Topo, saya tidak kenal Pak Trisno, ujar perempuan itu. Apakah Bapak warga sini? lanjut perempuan itu bertanya lagi.

Keterlaluan! Saya ini warga kampung ini Dik, rumah saya tuh di ujung jalan sana, nomor dua puluh dua. Lalu anda sendiri siapa? Kenapa berada dirumah Pak Trisno?! kesabaran Topo habis juga, dihardiknya perempuan yang berdiri di depannya.

Ini rumah saya, saya tidak tahu siapa Pak Trisno itu! kata perempuan muda berwajah cantik dengan judes, ia mulai tidak menyukai gaya Topo yang galak.

Menyadari nada bicaranya sangat tinggi, Topo lalu minta maaf. Perempuan itu kemudian mempersilahkan Topo untuk duduk di kursi teras rumah Pak Trisno. Tetangga yang lain melihat Topo dipersilahkan duduk oleh empunya rumah, mereka lalu masuk ke rumahnya masing-masing. Pekarangan dan jalanan kembali lengang.

Kalau boleh saya tahu, nama Adik ini siapa? tanya Topo ramah setelah duduk.

Nama saya Intan Permatawati Pak, jawab perempuan yang bernama Intan itu sambil menyalami Topo. Topo menjabat tangan Intan.

Wahnggak nyangka Pak Trisno mempunyai seorang keponakan secantik Intan, puji Topo bukan berbasa-basi. 

Saya bukan keponakan Pak Trisno dan saya tidak kenal dengan Pak Trisno, kata Intan. Topo kembali bingung mendengar jawaban Intan.

Lalu kenapa Intan berada di sini?

Karena ini rumah saya Pak!

Lho, ini rumah Pak Trisno! Rumah bercat hijau di depan itu, itu rumah Pak Bandi ketua RT, kata Topo menunjuk rumah di depannya.

Sepertinya Bapak bukan warga di sini ya? saya tidak pernah melihat Bapak apalagi mengenal Bapak, Intan mulai menyadari bahwa orang yang ia ajak bicara adalah orang asing yang mungkin tersesat.

Ya ampun! Dik Intan ini kok nggak percaya kalau saya ini warga di sini. Makanya saat ini saya ingin bertemu Pak Bandi dan juga Pak Trisno karena saya ingin menegur mereka, termasuk kamu Dik Intan! kata Topo bersemangat dengan nada suara mantap.

Apa salah saya, kenapa Bapak ingin menegur saya? tanya Intan heran.

Intan, coba lihat di sekelilingmu, lihat halaman rumah-rumah yang lain, termasuk rumah ini. Apakah ada sesuatu yang kurang?

Intan memandangi rumah-rumah yang lain, ia bahkan mengedarkan seluruh pandangan matanya dengan sangat serius. Ia perhatikan satu demi satu rumah di sekelilingnya dengan begitu detail, tidak tampak kekurangan di rumah-rumah tetangganya yang lain. Semua dalam keadaan wajar.

Pak Topo, tidak ada yang kurang dengan rumah-rumah tetanggaku dan semuanya wajar, jawab Intan.

Oke, itu menurutmu. Tetapi kamu tidak lupa khan, hari ini hari apa? tanya Topo meragukan rasa nasionalisme Intan.

Hari ini, hari Minggu. Memangnya kenapa? jawab Intan ringan balik bertanya.

Saya tidak menyangka, Dik Intan sebagai seorang yang masih muda sudah hilang rasa nasionalisme dan rasa kebanggaan sebagai seorang warga negara, ujar Topo kecewa.

Apa hubungannya dengan nasionalisme? Saya mencintai negara saya dan saya sangat bangga dengan bangsa ini! sahut Intan cukup lantang. Rupanya perkataan Topo tadi cukup menyinggung dirinya.

Tetapi kenapa Dik Intan dan warga di sini tidak mengibarkan bendera merah putih? Hari ini khan tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan bangsa dan negara kita, Indonesia! pecahlah semua rasa kesal Topo.

Indonesia??? itulah kata yang keluar dari mulut Intan yang terbuka menganga, melongo dan bingung.

Betul sekali Dik Intan, kenapa semua warga lupa untuk sekadar memasang bendera merah putih, kata Topo dengan nada sedih.

Menyadari hal itu, Intan berlari masuk ke dalam rumah. Sejurus kemudian ia telah berdiri di depan Topo sambil memegang selembar kain berwarna-warni. Topo memperhatikan selembar kain yang cukup besar itu yang ada warna biru, kuning, hijau dan beberapa bulatan putih, polkadot.

Maaf Pak Topo, Ini bendera kami! kata Intan sambil menyerahkan kain warna-warni itu kepada Topo. Ia menerimanya dengan tangan gemetar dan sambil memandang selembar kain yang disebut oleh Intan sebagai bendera itu, kemudian ia menangis. Menangis tersedu-sedu.

Topo lalu berdiri dengan lunglai, kakinya bergetar meninggalkan Intan, dirasakannya ia begitu asing di tempat ini, di kampung ini dan di negara ini. Pandangan mata Topo berkunang-kunang. Samar-samar di dengarnya Intan berteriak.

Bapak sedang tidak berada di Indonesia!

Suara Intan memantul, menggema, gaungan suara Intan memekakkan genderang telingannya. Dan memang Topo tidak pernah menemukan bendera merah putih yang hilang dan sempat berkibar di halaman rumahnya. Topo merasakan kelopak matanya terasa begitu berat oleh air mata yang terus berderai, Topo memejamkan matanya. Topo sadar pagi ini ia tidak terbangun di negaranya, tetapi di tanah kampung halamannya sendiri yang ternyata bukan Indonesia. Ia hanya ingin tidur kembali pagi ini.

Dengan perasaan pedih dan perih, tepat jam sepuluh pagi ini tanggal 17 Agustus, Topo membayangkan dengan bangga ia mengibarkan sang merah putih di tiang bendera miring di halaman rumahnya bersama istrinya Narti. Mereka berdua menghormati kibaran merah putih itu dengan perasaan haru biru. Mungkin juga bersama berjuta-juta rakyat Indonesia yang lain, entah dimana. Mungkin. Mungkin ya, mungkin tidak.***

Jakarta, 17 Agustus 2008


 

Jumat, 29 Maret 2013

Perbedaan Karangan

 Bahasa Indonesia ( 3 ) 

(1) Karangan Ilmiah
Karya ilmiah lazim juga disebut karangan ilmiah. Lebih lanjut, Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).   
Karya ilmiah atau dalam bahasa Inggris (scientific paper) adalah laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis dan disertasi.
Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah. Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu (1) mengenali dan merumuskan masalah, (2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis, (3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara, (4) menguji hipotesis, dan (5) menarik kesimpulan.
 
Ciri Karya Ilmiah
Secara ringkas, ciri-ciri karya ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut:
1.Objektif.
Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memvertifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
2.Netral.
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
3.Sistematis.
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
4.Logis.
Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
5.Menyajikan fakta (bukan emosi dan perasaan)
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
6.  Tidak Pleonastis
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat. Kata-katanya jelas atau tidak berbelit- belit (langsung tepat menuju sasaran).
7.  Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.
 
Contoh karangan ilmiah
Mengenal Kanker Serviks - Penyakit Kanker Leher Rahim
Kanker servik umumnya dikenal dengan penyakit kanker leher rahim, jenis penyakit ini banyak dialami oleh kaum hawa (wanita). Saat ini, kanker serviks menjadi penyebab kematian wanita nomor dua di dunia setelah penyakit jantung koroner. Namun dalam kurun waktu setahun ke depan diprediksi kanker leher rahim akan menjadi penyebab kematian wanita nomor satu, jika tidak dilakukan upaya deteksi dini dan pengobatannya.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kangker serviks merupakan penyebab utama kematian. Di dunia, setiap dua menit seorang wanita meninggal dunia akibat kanker serviks. Jadi, jangan lagi memandang ancaman penyakit ini dengan sebelah mata.

1. Apa itu kanker serviks? - Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah jenis penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah, yang membuka ke arah liang vagina. Berawal dari leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.

2. Seberapa berbahaya penyakit ini? - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.

3. Apa penyebabnya? - Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

4. Bagaimana penularannya? - Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.

5. Apa saja gejalanya? - Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.

(2) Karangan Semi Ilmiah
Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi panulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
Karangan semi ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Yang tergolong karangan semi ilmiah antara lain artikel, opini, kritik, esai, resensi dan sebagainya. 
 
Contoh karangan non ilmiah, berupa opini
 
PENDIDIKAN NASIONAL
Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih menhutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja tawuran bukan lagi milik pelajar SMP atau SMA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus) atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demostrasi yang santun dan tidak mengganggu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan perilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan pejabat.
Selain itu berita-berita mengenai tindakan pencurian baik roda dua maupun empat pengguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan dinegara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda besar kenapa hal tersebut terjadi? Apakah dunia pendidikan kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling menyayangi kepada siswa atau mahasiswa atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah akibat perilaku para pejabat kita?
Dilain pihak tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permaslahannya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi ini akan berakhir belum ada tanda-tandanya.
(3) Karangan Non Ilmiah
Karangan non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tulisan ini tidak memiliki aturan baku. Yang tergolong karangan non ilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
 Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi, (2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative, (3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
 
Contoh karangan non ilmiah, berupa dongeng
 LOMBA LARI BINATANG
Sebelum lomba dimulai, tikus bebisik kepada kucing,”aku tau cara memenangkan lomba ini. Saudaraku menemukan jalan pintas dan aku punya petanya.”
“bagus aku akan ikut bersamamu. Jadi kita bisa memenangkan tempat pertama dan kedua.” kata kucing. Maka saat lomba dimulai, kucing dan tikus menempuh jalan yang berbeda dari peserta lain yang diyakini mereka sebagai jalan pintas.
“menurut peta ini dari sinilah kita mulai bebelok.” kata tikus sambil membaca petanya. “aku tidak bisa membaca petanya kalau tidak melihat jalannya dengan jelas. Rumput-rumput ini menghalangi penglihatanku. Bagaimana kalau kau menggendongku? Jadi aku bisa melihat arah yang benar.’ “Baiklah” kata kucing. 
 
 
Ref :

Penalaran Dalam Penulisan Karya Ilmiah

Bahasa Indonesia ( 2 ) 

A. Pengertian dan Jenis Penalaran
Penalaran (reasioning) adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).
Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.

1. Penalaran Induktif dan Coraknya
Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.

Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:

a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:
1) Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
2) Berdasarkan pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran.

b. Analogi
Analogi adalah suatu proses yag bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpula yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara analogi adalah sebagai berikut:
1) Dalam riset medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan ditarik kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga akan terjadi pada manusia.
2) Dr. Maria C. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of California tertarik untuk meneliti pengaruh pil kontrasepsi terhadap pertumbuha cerebral cortex wanita, sebuah bagian otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi sejumlah tikus betina dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil. Hasilnya tikus-tikus itu memperlihatkan pertumbuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan studi itu, Dr. Diamond menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat perkembangan otak penggunanya.
Dalam contoh penelitian tersebut, Dr. Diamond menganalogikan anatomi tikus dengan manusia. Jadi apa yang terjadi pada tikus, akan terjadi pula pada manusia.

c. Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
Penalaran induktif dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:
1) Ketika seorang ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang sedang dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung tebal (sebab) adalah pertanda akan turun hujan (akibat).

2) Seorang petani menanam berbagai jenis pohon dipekarangannya, tanaman tersebut dia sirami, dia rawat dan dia beri pupuk. Anehnya, tanaman itu bukannya semakin segar, melainkan layu bahkan mati. Tanaman yang mati dia cabuti. Ia melihat ternyata akar-akarnya rusak da dipenuhi rayap. Berdasarkan temuannya itu, petani tersebut menyimpulkan bahwa biang keladi rusaknya tanaman (akibat) adalah rayap (sebab).

2. Penalaran Deduktif dan Coraknya
Penalaran deduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu, ditariklah kesimpulan tentang hal-hal khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa khusus itu.
Contoh :
Semua makhluk hidup akan mati
Manusia adalah makhluk hidup
Karena itu, semua manusi akan mati.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap.
Pertama, generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui dan diakui kebenarannya.
Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.

Penalaran deduktif dapat dilakukan dengan dua cara:

a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.
Dari pengertian di atas, silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.
Contoh:
Premis mayor : Semua cendekiawan adalah pemikir
Premis minor : Habibie adalah cendekiawan
Kesimpulan : Jadi, Habibie adalah pemikir.

b. Entinem
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.

Contoh:
Berangkat dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis mayor : Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang
sedang kesusahan
Premis minor : Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan : Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yag
kesusahan.
Kalau proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi ”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang kesusahan.”

B. Hubungan Menulis Karya Ilmiah dengan Penalaran
Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh pengamatan, peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Atas dasar itu, sebuah karya tulis ilmiah harus memenuhi tiga syarat:
1. Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
2. Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah
3. Sosok tampilannya sesuai da telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.

Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
1. Argumentasi teoritik yang benar, sahih dan relevan
2. Dukungan fakta empirik
3. Analisis kajia yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.

C. Salah Nalar, Pengertian dan Macamnya
Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan.

Contoh sederhana:
Seseorang mengatakan, ”Di sekolah, Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang terpenting. Tanpa menguasai Bahasa Indonesia seorang siswa tidak mungkin dapat memahami mata pelajaran lainnya dengan baik.”
Pernyataan tersebut tidaklah tepat. Bahwa Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran penting, memang benar. Tetapi kalau dikatakan terpenting, tampaknya perlu dipertanyakan.
Salah tafsir dapat terjadi karena kekeliruan induktif, deduktif, penafsiran relevansi dan peggunaan otoritas yang berlebihan.

Salah nalar dapat dibedakan atas 4 (empat) macam:

1. Generalisasi yang terlalu luas
Salah nalar ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yag terbatas. Paling tidak ada dua kesalahan generalisasi yang muncul:

a. Generalisasi sepintas (Hasty or sweeping generalization)
Kesalahan terjadi karena penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Karena masih banyak faktor penentu lain yang teribat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.

b. Generalisasi apriori
Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama.
Contoh: Semua pejabat pemerintah korup; Para remaja sekarang rusak moralnya; Zaman sekarang, tidak ada orang berbuat tanpa pamrih; dan sebagainya.

2. Kerancuan analogi
Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat. Dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).
Contoh:
”Negara adalah kapal yang berlayar menuju tanah harapan. Jika nahkoda setiap kali harus meminta anak buahnya dalam menentukan arah berlayar, maka kapal itu tidak akan kunjung sampai. Karena itu demokrasi pemerintahan tidak diperlukan, karena menghambat.”

3. Kekeliruan kasualitas (sebab akibat)
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab.
Contoh:
a. Saya tidak bisa berenang, karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
b. Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan

4. Kesalahan relevansi
Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan. Corak kesalahan ini dapat dirinci menjadi 3 (tiga) macam:
a. Pengabaian persoalan (ignoring the question)
Contoh:
Korupsi di Indonesia tidak bisa diberantas, karena pemerintah tidak memiliki undang-undang khusus tentang hal itu.

b. Penyembunyian persoalan (biding the question)
Contoh:
Tidak ada jalan lain untuk memberantas korupsi kecuali pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri.

c. Kurang memahami persoalan
Salah nalar ini terjadi karena penulis mengemukakan pendapat tanpa memahami persoalan yang dihadapi dengan baik. Sehingga pendapat yang disampaikan tidak mengena atau berputar-putar dan tidak menjawab secara benar atau persoalan yang terjadi.

5. Penyandaran terhadap prestise seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.
Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:
a. Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain
b. Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
c. Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya

Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.


Ref :
http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah-oleh-mardiya/

Pengunaan Penalaran dalam Proses Berbahasa


Bahasa Indonesia ( 1 )   

Sebelum menbahas bagaimana penalaran dipergunakan dalam berbahasa, terlebih dahulu akan dibahas apa itu penalaran dan apa saja macam dari penaran. Berikut ini adalah penjelasannya :
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

MACAM-MACAM PENALARAN
A. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum (Smart,1972:64). Penalaran ini lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau empiri. Dengan kata lain penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.(Suriasumantri, 1985:46). Inilah alasan eratnya kaitan antara logika induktif dengan istilah generalisasi.

Ciri-ciri Paragraf Induktif :
1.      Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
2.      Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
3.      Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
4.      Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas 
5.      Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
6.      Contoh kesalahannya : Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.

Contoh Kalimat Induktif :
1.      Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
2.      Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
kesimpulan : Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan

Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
a.       Generalisasi
    Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulanumum.‡ Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.‡ Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.
    Pernyataan semua bintang sinetron berparas cantik hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.

b.      Analogi
     Penalaran Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogidapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkankesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut:
  1.  Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
  2.  Analogi dilakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.3. Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
Contoh : Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki,ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu,seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran,dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya denganmendaki gunung untuk mencapai puncaknya.

c.       Kausal
     Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang salingberhubungan. Hal ini terlihat ketika tombol ditekan yang akibatnya bel berbunyi. Dalamkehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalanbecek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia.
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagai berikut:

·         Sebab akibat
Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping ini pola seperti ini juga dapatmenyebabkan B, C, D dan seterusnya. Jadi, efek dari suatu peristiwa yang diaanggap penyebabkadang-kadang lebih dari satu. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukankemampuan penalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihatpada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap suatu akibat yang nyata.Contoh :Belajar menurut pandangantradisional adalah usaha untuk memperoleh sejumlh ilmupengetahuan. ‘Pengetahuan´ mendapat tekanan yang penting, oleh sebab pengetahuanmemegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang memiliki pengetahuan, ia mendapat kekuasaan.

·         Akibat sebab
Akibat sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Kedokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab. Jadi hampir mirip dengan entimen. Akan tetapidalam penalaran jenis akibat sebab ini, Peristiwa sebab merupaka simpulan.Contoh : Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa, tetapi sudah berani menggunakan senjata tajam.Remaja yang telah kecanduan obat-obat terlarang tidak segan-segan merampok bahkan membunuh. Hal ini selain disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua dan pengaruhmasyarakat, pengaruh televisi dan film cukup besar.

·         Akibat-akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu akibat yang lain. Contoh : Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek, ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan yaitu hari hujan.

B. Penalaran Deduktif 
Penalaran deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited, something else than what is posited necessarily follows from them”. pola penalaran ini dikenal dengan pola silogisme. Pada penalaran deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. 

Corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan secara langsung diambil dari satu premis,sedangkan untuk penarikan kesimpulan tidak langsung dari dua premis.

Contoh Paragraf Deduktif :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.

Kalimat utama dari paragraph adalah kalimat yang di garis bawahi, dan kalimat itu berada depan paragraf sesuai dengan ciri-ciri dari paragraph deduktif.

Jenis-jenis Penalaran Deduktif  :
a. Silogisme
Silogisme merupakan proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi).Bentuk silogisme :
1.      Silogisme kategoris : terdiri dari proposisi-proposisi kategoris.
2.      Silogisme hipotesis : salah satu proposisinya berupa proposisi hipotesis.
Misalnya :
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang hujan
Konklusi : Maka jalanan basah.
Bandingkan dengan jalan pikiran berikut :
Premis 1 : Bila hujan, maka jalanan basah
Premis 2 : Sekarang jalanan basah
Konklusi : Maka hujan.
b. Silogisme Standar
Silogisme kategoris standar = proses logis yang terdiri dari tiga proposisi   kategoris. Proposisi 1 dan 2 adalah premis. Proposisi 3 adalah konklusi
Contoh: Semua pahlawan adalah orang berjasa Kartini adalah pahlawan
Jadi : Kartini adalah orang berjasa.
 
Rizky.2011.” Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Proses Penalaran”. http://ariztik.wordpress.com/2011/04/16/penggunaan-bahasa-indonesia-dalam-proses-penalaran/