Senin, 10 Juni 2013

Derita Rakyat Papua

http://galih-aja1.blogspot.com/
Sudah sejak tahun 1963 pulau Papua menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia, dimulai dengan dikumandangkanya operasi pembebasan Irian Barat atau yang lebih dikenal dengan sebutan TRIKORA yang dikumadangkan pada tanggal 1 Mei 1961, Irian Barat atau Provinsi Irian Jaya  yang pada waktu itu masih diklame oleh Pemerintah Kolonial Belanda merupakan daerah jajahannya. Presiden RI kala itu yakni Ir.Soekarno, dengan tegasnya mengumandangkanTRIKORA 
 guna membebaskan Papua Barat dari tangan Kolonial, proses pembebasan inipun bukan tanpa halangan dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk akhirnya bisa mempersatukan Papua Barat (Irian Jaya ) menjadi bagian dari negeri ini, perjuangan yang beratpun dilakoni oleh bangsa ini, mulai dari perundingan Konferensi Meja Bundar sampai dengan konfrontasi-konfrontasi yang dilakukan demi mempersatukan Papua Barat menjadi bagian dari Negeri ini.
Namun semua itu hanya untuk merefleksi pengetahuan kita tentang sejarah bangsa ini, lain dulu lain sekarang, jika dahulu para pahlawan negeri ini dengan gigih berani  dan semangat pantang menyerah senantiasa berjuang demi  membebaskan saudara-saudara kita di belah timur sana dari tangan Pemerintahan Kolonial yang kejam, namun kondisi yang sekarang terjadi ketika pulau Papua telah menjadi bagian dari negeri ini, ia dibiarkan begitu saja, diperlakukan seperti anak tiri oleh bangsa sendiri. Kelaparan,gizi buruk,tingkat pendidikan yang masih tertinggal jauh dari daerah lain, dan masih banyak permasalahan-permasalahan  lainnya yang seharusnya tidak terjadi dalam sebuah bangsa yang merdeka. Bangsa yang merdeka seakan-akan hanya sebuah keniscayaan saat kita melihat kondisi masyarakat  yang ada di Provinsi Irian Jaya sana,  mayoritas dari mereka hidup dengan standar kehidupan yang sangat jauh dari kata layak. Kondisi ini yang menyebabkan gejolak sosial sering kali muncul dalam kehidupan masyarakatnya, bahkan yang lebih ekstrimnya lagi semakin gencarnya gerakan-gerakan sparatisme yang  kerapkalai terjadi, hal ini menempatkan Provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi yang rawan konflik  baik itu Vertical maupun konflik Horizontal, Kondisi yang seperti itu sebenarnya  merupakan suatu bentuk protes social terhadap Pemerintah yang berdaulat  atas ketidak mampuanya mengatasi segala permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.
Jika mau coba kita ulas kebelakang sebenarnya sudah cukup banyak kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi yang telah terekspose media dan telah disiarkan ke seluruh penjuru negeri, namun semua itupun nampaknya belum mampu menggugah hati nurani para elite pemerintahan untuk segera menyelesaikannya. Mereka seakan-akan asik sendiri menikmati  hidup  bergelimangan harta dan jauh dari kata kelaparan atupun kesusahaan, berbanding terbalik 180 derajat dengan kondisi saudara-saudara kita di Irian Jaya sana.
Pemerintah yang pada hakekatnya bertugas dan berkewajiban memakmurkan dan mensejahterakan masyarkatnya, namun justru pemerintah seakan-akan tidak serius menuntasakan segala permasalahan yang terjadi di Irian Jaya, hal ini tercermin dengan minimnya setuhan pembangunan, baik itu dalam segi ekonomi,pendidikan maupun kesehatan. Provinsi Irian Jaya terkesan ditelantarkan begitu saja dengan segala permasalahan yang terjadi di dalamnya. Bahkan kondisi ini diperparah dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang jelas-jelas merugikan masyarakat dan bangsa, namun tetap saja dijalankan/dibelakukan, seperti masih diperpanjangnya kontrak PT.Freeport untuk terus  mengeksploitasi kekayaan alam Irian Jaya, padahal dengan kasat mata pun sudah sangat jelas bahwa kontrak PT. Freeport ini sangat merugikan bangsa.
Seharusnya jika kita menggunakan konsep Logika berfikir sederhana, dengan sumber kekayaan alam yang begitu melimpahnya, Provinsi Irian Jaya ini akan menjadi sebuah Provinsi yang sangat maju jika kita bandingkan dengan provinsi-provinsi yang ada dipulau Jawa, baik dalam bidang pendidikan,kesehatan sampai dengan ekonomi. Namun apaboleh dikata, Provinsi Irian Jaya masih saja berkutat  dengan berbagai macam permasalahnya. Sebenarnya bukan menjadi hal yang mustahil untuk mengentaskan segala permsalahan yang terjadi di Provinsi IrianJaya jika Pemerintah dengan serius  menyelesaikanya, hal inipun telah dibuktikan oleh Pemerintah Kuba dan Venezuela , bagaimana dengan keseriusanya untuk mengentaskan segala permaslahan yang terjadi di bangsanya yang berakhir dengan keberhasilan, ini pun yang seharusnya dijadikan contoh untuk Pemerintah kita, agar permaslahan yang terjadi di Provinsi Irian Jaya cepat terselasikan sehingga masyarkat dapat hidup dengan standar kehidupan yang layak  dan hidup aman tentram sejahtera.
 

Van Basten: Angsa Berhati Singa*

Oleh Mahfud Ikhwan

Judul: Marco van Basten: Era AC Milan dan Oranye;penulis: Zeger van Herwaarden; alih bahasa: Laurens Sipahelut; penerbit: Pena Wormer;
tebal: 254 halaman
; tahun: 2006.


"VAN Basten tidak pernah dianggap manusia darah dan daging, tidak seperti Maradona, yang meleburkan diri dengan hiruk pikuk kehidupan Napoli. (Sementara) anak Argentina itu hidup di hati masyarakat, kecintaan pada Van Basten ada di kepala." Demikianlah sebuah paragraf Zeeger van Herwaarden dalam bukunya, Marco van Basten: De Jaren in Italic en Oranye, yang diterjemahkan oleh Laurent Sipahelut menjadi Marco van Basten: Era AC Milan dan Oranye (2006).

Van Basten memang serupa angsa. Karena itu, orang Italia menjulukinya Il Cigno (si angsa). Ia anggun, elegan, amat memesona, tapi tak ada orang yang bisa mendekatinya. Apalagi membelainya. Ia hanya bisa dikagumi dari kejauhan, tapi tak bisa disentuh. Seusai memesona puluhan ribu penonton di stadion, ia akan bergegas mandi dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Permintaan tandatangan dari fans diberikan sebagai bagian dari pekerjaan, bukan sebentuk basa-basi keramahan. Permintaan wawancara dari juru warta akan ia jawab dan hanya jika berkait dengan sepakbola. Begitu pertanyaan menjurus ke urusan pribadi, dengan enteng ia akan ngeloyor pergi. 

Seperti ditulis Van Herwaarden, sejak kecil, satu-satunya hal yang diketahui dan menarik hati Marco muda hanya sepakbola. Ini karena sejak sebelum 10 tahun, saat masih bermain di klub amatir EDO, di kota kelahirannya, Utrecht, Marco telah jadi talenta yang mengundang perhatian. Sementara ayahnya, Joop van Basten, adalah seorang pelatih amatir yang ngomongnya tak lain hanya sepakbola.

Di kamar Marco, tulis Van Herwaarden, setiap malam, sebelum Marco tidur, ayah dan anak Van Basten itu menyempatkan untuk membahas teknik dan taktik sepakbola barang setengah jam. Van Basten senior juga seorang yang sangat keras, terutama kepada anaknya sendiri. Sebagus apapun Marco bermain, Joop tak pernah menunjukkan rasa puasnya. "Dengan kemampuan yang kamu miliki, kamu semestinya jauh lebih baik," demikian hardik Joop pada Marco.

Kerasnya Joop menempa anaknya amat membekas pada Marco. Marco tumbuh jadi remaja yang selalu ingin membuktikan diri. Kepada orang lain, tetapi terutama kepada diri sendiri. "Saya adalah yang terbaik kedua setelah saya," demikian semboyan Van Basten yang, konon, masih dapat ditemukan tertera di meja kerjanya sampai saat ini. Dan semangat itu, yang melengkapi bakat dahsyatnya, mengantar Marco dengan tanpa kesulitan menapaki tangga kebintangannya.

Di Ajax-lah kemudian Van Basten mendapat sentuhan langsung dari legenda sepakbola terbesar Belanda, Johan Cruyff. Jika Van Basten senior menempa Van Basten junior keras terhadap dirinya sendiri, maka Cruyff—yang oleh beberapa kalangan dianggap seorang maniak—mengarahkan Van Basten untuk keras terhadap seluruh dunia. Sang legenda menanamkan dalam-dalam ke pikiran si calon legenda kalau sepakbola pada dasarnya hanya tunduk pada satu hukum: memakan atau dimakan. Cruyff pula yang menanamkan pada benak Van Basten bahwa untuk bertahan menjadi juara diperlukan sikap jemawa. Misalnya, saat Van Basten resah karena hanya jadi cadangan di skuad Belanda untuk Piala Eropa 1988, Cruyff dengan setelah menghasut mengatakan kepadanya: “Kamu penyerang terbaik Eropa... Main sebagai penyerang atau jangan main sama sekali.” Dengan sangat tepat Van Herwaarden mengatakan kalau Cruyff tak hanya membuat Van Basten lebih waspada, tajam, dan lihai, tapi juga lebih keras lagi bengis. Dan memang itulah gambaran lengkap seorang Marco Van Basten, sebagai pribadi maupun sebagai pemain.

Beberapa kisah yang bisa kita temukan di buku ini bisa diajukan sebagai contoh. Van Basten adalah aktor penting dalam kejadian memalukan saat skuad Belanda pada kualifikasi Piala Dunia 1990, yang dipelopori sang kapten, Ruud Gullit, sepakat “mencopot” pelatih mereka sendiri yang kurang dikenal, Thijs Libregts—sebuah kejadian yang selalu menjadi rujukan setiap orang yang ingin menelisik mengapa di balik membanjirnya bakat-bakat sepakbola, Belanda hanya punya seupil piala. Pada lain kesempatan, saat menjadi kapten timnas Belanda pada kualifikasi Piala Eropa 1992, dengan tanpa belas-kasihan, Marco meminta pelatih Belanda saat itu, Rinus Michels, agar meminggirkan Wim Kieft, striker senior yang tidak sukai Marco—dan permintaan itu dituruti.

Tapi, ke-“garang”-an van Basten tak hanya terjadi di luar lapangan. Menjadi striker hebat di Serie-A yang dikenal karena kebengisan bek-beknya, van Basten tumbuh menjadi penyerang yang juga bengis. Merasa tak cukup dilindungi oleh wasit, dan bukan jenis pemain yang suka mengiba kepada wasit untuk minta belas-kasihan, van Basten mengembangkan perlindungan diri dengan caranya sendiri: membalas. Itulah yang membuatnya disegani. Insiden paling terkenal adalah saat ia membuat bonyok hidung bek Club Brugge, Pascal Plovie, dalam sebuah pertandingan di Piala Champions. Insiden yang menghasilkan skorsing empat pertandingan (sebelum dikurangi menjadi tiga) itu, oleh van Basten dengan enteng dianggapnya sebagai sebuah ‘kecelakaan belaka”. Yang perlu ditambahkan, bonyoknya hidung Plovie ini hanya berselang dua pekan dari sebuah keributan yang ditimbulkannya saat Milan kalah lawan Porto, di mana van Basten diklaim telah membuat jontor bibir bek Porto, Veloso.

***

Dikenal sebagai pribadi yang keras dan dingin, bukan berarti suasana itulah yang kita dapati sepanjang buku. Dari keanggunan yang tak tersentuh dari van Basten, yang secara umum menjadi kesimpulan dari buku ini tentang siapa van Basten, banyak bagian yang justru sangat menyentuh. Ya, tak sebengis gol-golnya, beberapa bagian dari diri van Basten masih menyikan drama untuk kita—yang sebagian mungkin tak banyak diketahui oleh para pembaca tabloid olahraga.

Meski telah menjadi penyerang hebat di Liga Belanda, kepindahannya ke Milan pada musim kompetisi 1988 tak serta-merta mencuatkan karirnya ke puncak sebagaimana yang kita ketahui belakangan. Datang ke Milan dengan ligamen lutut telah rusak, ia melewati musim pertama bersama Rossoneri dengan lebih banyak menjadi cadangan dari Pietro Paolo Virdis, striker yang bahkan tak banyak dikenal dalam sejarah AC Milan. Van Herwaarden menggambarkan, ketika Rudd Gullit dielu-elukan karena menjadi poros utama kesuksesan Milan merebut Scudetto dari dominasi Napoli-nya Maradona—sebuah gelar yang mengawali era keemasan Milan pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an—van Basten hanya duduk-duduk tenang di pinggir lapangan. Ia tak larut dalam kegembiraan tim itu karena merasa tak menjadi bagian dari kesuksesan tersebut.

Tak cukup sukses pada musim pertamanya di Milan membuat van Basten hanya jadi ban serep di skuad Belanda untuk Piala Eropa 1988 di Jerman Barat asuhan Rinus Michels. Menjadi cadangan dari striker yang kini sudah hampir terlupakan dari memori kita soal timnas Belanda, John Bosman, Michels memaksa van Basten untuk bermain di sayap kiri dan memberinya nomor punggung pemain cadangan, 12, yang oleh Basten disebut sebagai “nomor tribun”. Namun, seperti sebuah film olahraga kacangan, semua orang kemudian tahu, Basten muncul di akhir turnamen sebagai pahlawan.  

Namun, drama terbesar dari kisah van Basten tentu saja adalah cedera engkelnya. Jika van Basten adalah superhero di dunia sepakbola, maka cedera engkel ini adalah penjahat tangguh dan licik yang selalu merongrongnya—dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Berlatih terlalu keras, dan menjadi musuh nomor satu semua bek, van Basten telah hidup dengan cedera sejak belia, sebagaimana dialami oleh pemain-pemain hebat macam Maradona dan Baggio. Namun, Basten, dengan kelenturan tubuh yang alami, selalu sukses untuk kembali ke lapangan dan kembali mencetak gol. Namun, sebuah cedera yang didapatinya setelah melawan Ancona pada sebuah partai Serie A di mengujung tahun 1992 berbeda. Cedera itulah yang membuatnya menerima penghargaan Pemain Terbaik Dunia dengan kaki pincang. Cedera itulah yang mengharuskannya berpindah dari satu dokter bedah ke dokter bedah lain (dengan satu dokter dengan dokter yang lain saling menyalahkan), dari satu meja operasi ke meja operasi lain, dan–pada akhirnya--dari satu kemungkinan sembuh ke ketidakmungkinan sama sekali. Cedera itulah--setelah melewati bulan-bulan yang menyakitkan, penuh darah penuh nanah, penuh penantian yang memutusasakan--akhirnya memaksanya untuk menyerah. Di usia 28 tahun!

***

Meski bercerita tentang Marco Van Basten dari awal karirnya hingga masa kepelatihannya dengan detail yang mengagumkan, buku ini jelas bukan buku biografi, apalagi otobigrafi. Bukan saja karena terlalu tipis untuk sosok sebesar Van Basten, tapi juga memiliki bentuk yang terlalu aneh untuk sebuah buku riwayat hidup. Zeger Van Herwaarden, sang penulis, menyisipi (atau malah, tepatnya, mengawali) tiap pergantian bab dengan fragmen-fragmen hidupnya sendiri. Tapi, alih-alih mengganggu, fragmen-fragmen pendek hidup penulis ini justru malah menjadikan buku ini menjadi sangat personal bagi penulis. Lebih-lebih lagi, Van Herwaarden menulis dengan cara yang lincah dan cergas, khas gaya para penulis kolom sepakbola Eropa.

Lepas dari bentuknya, ini buku langka yang penting. Penerjemahannya yang langsung dari bahasa Belanda sudah jadi salah satu keistimewaannya. Sebab, dalam khazanah perbukuan Indonesia, biasanya hanya buku-buku ilmiah dan sejarah saja yang diterjemahkan langsung dari bahasa Belanda. Yang perlu dipuji juga adalah usaha penerjemahnya untuk memberdayakan dan mengekplorasi kosa-kata Indonesia dalam penerjemahan ini. Banyak kosa-kata yang jarang—yang sering disangka telah arkais— dipakai penerjemah dalam buku ini. Kata "sintas", “retas”, “dolak-dalik”, "jemawa", atau "langsam" dapat dengan mudah ditemukan dalam buku ini.

Suka atau tidak dengan sepakbola, kenal atau tidak dengan Marco van Basten, buku ini mesti dibaca para olahragawan dan para pencinta dunia olahraga. Selain menyajikan dengan amat manusiawi sosok olahragawan besar seperti Van Basten, buku ini secara langsung maupun tak langsung menunjukkan kepada kita semua—baik sebagai manusia maupun sebagai olahragawan—apa yang mesti dilakukan dan apa yang tak perlu dilakukan. Van Basten menjadi contoh bahwa kebesaran tak bisa diraih dengan usaha biasa-biasa saja: kerja keras, ambisi besar, standar tinggi, kadang malah harus sempurna, adalah tuntutannya. Tapi, jalan hidup Marco juga mengajarkan, tak ada yang lebih berbahaya bagi diri kita kecuali kita sendiri.***
*Dirombak dari sebuah resensi yang (rupanya) pernah dimuat di harian Analisa edisi Rabu, 17

Sejarah Awal Mulanya Kota Palembang

Kota Palembang adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di Palembang Barat, hingga sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.
Sejarah Awal Mula Berdiri Kota Palembang
Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu :
  • Pegunungan Bukit Barisan.
  • Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
  • Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara

1256976844.jpgSriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Sumber:
http://infokito.wordpress.com/2007/07/15/mengenal-kota-palembang/
http://www.palembang.go.id/?nmodul=halaman&judul=sejarah&bhsnyo=id
http://karimsh.multiply.com/journal/item/77?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

RESENSI

Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas buku.

Tindakan meresensi dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas

Secara singkat, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.


Lebih detil lagi, tujuan resensi adalah:
Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif (mendalam) tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Setelah mengetahui definisi serta tujuan dari resensi yang dibuat oleh resentator, kira-kira unsur apa saja yang terkandung di dalam sebuah resensi?



Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi adalah sebagai berikut:


  •  Membuat judul resensi

Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidakharus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.


  •  Menyusun data buku

Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
- Judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan judul aslinya.);
- Pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.);
- Penerbit;
- Tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);
- Tebal buku;
- Harga buku (jika diperlukan).


  •  Membuat pembukaan

- Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
- Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;
- Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;
- Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
- Memaparkan keunikan buku;
- Merumuskan tema buku;
- Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;
- Mengungkapkan kesan terhadap buku;
- Memperkenalkan penerbit;
- Mengajukan pertanyaan;
- Membuka dialog.


  •  Tubuh atau isi pernyataan resensi buku

Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
a. sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
b. ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;
c. keunggulan buku;
d. kelemahan buku;
e. rumusan kerangka buku;
f. tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
g. adanya kesalahan cetak.


  • Penutup resensi buku

Bagian penutup, biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa.




Terakhir, bagaimana cara membuat resensi itu sendiri? Bagaimana langkah-langkah di dalam membuat resensi yang baik?

Ketika melakukan kegiatan meresensi, hendaklah perhatikan langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut.
1. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi,mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi isi buku,siapa yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format, hingga harga.Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis, hingga mengapa ia menulis buku itu. Buku itu termasuk golongan buku yang mana: ekonomi, teknik, politik, pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, atau sastra.
2. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat.
3. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.
4. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.
5. Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut.

  • Organisasi atau kerangka penulisan; bagaimana hubungan antara bagian yang satu dan bagian yang lain, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya.
  • Isi pernyataan; bagaimana bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas pemikirannya, bahasa; bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, kalimat dan penggunaan kata, terutama untuk buku ilmiah.
  • Aspek teknis; bagaimana tata letak, tata wajah, kerapian dan kebersihan, dan pencetakannya (banyak salah cetak atau tidak). 



Sebelum menilai, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) resensi itu. Outline ini sangat membantu kita ketika menulis, mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria yang kita tentukan sebelumnya.


Untuk melengkapi pemaparan mengenai resensi, saya sertakan bentuk resensi sebuah cerpen di bawah ini :