Minggu, 24 Oktober 2010

Hubungan Manusia dan Alam

Dalam pelajaran ekologi manusia, kita akan dikenalkan pada teori tentang hubungan manusia dengan alam. Salah satunya adalah anthrophosentis. Di sana dijelaskan mengenai hubungan manusia dan alam. salah satu bentuknya adalah anthoposentris. dimana manusia menjadi pusat dari alam. maksudnya semua yang ada dialam ini adalah untuk manusia.
kalau dipikir-pikir emang benar sih. buat apa coba, ada sapi, ikan, padi, kalau bukan untuk makanan kita. buat apa ada kayu, batu, pasir, kalau bukan buat bangunan untuk manusia. buat apa ada emas, berlian kalau gak dipakai oleh manusia sebagai perhiasan.
Allah SWT. juga menjelaskannya dalam Al Qur’an, bahwa semua yang ada dialam ini memang sudah diciptakan untuk kepentingan manusia.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (al baqarah: 29)
tapi berbeda dengan anthoroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa yang memiliki hak tidak terbatas terhadap alam, maka islam menempatkan manusia sebagai rahmat bagi alam.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(al anbiyaa’:107)
walaupun kita diberi kelebihan oleh Allah atas segala sesuatu di alam ini, tapi kelebihan itu tidak menjadikan kita sebagai penguasa atas alam dan isinya. Karena alam dan isinya tetaplah milik Allah. Kita hanya diberikan kekuasaan atas alam tersebut sebagai pengelola dan pemelihara, dan pemakmur.
Kemudia ketika kita berinteraksi dengan alam, tidak seperti paham antroposentris yang menghalalkan sebgala cara asal kebutuhan manusia terpenuhi, islam mengajarkan bahwa hak kita dalam memanfaatkan alam juga dibatasi oleh hak alam dan isinya itu sendiri.
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al an’am:141)”
kita tidak boleh berlegih-lebihan dalam memanfaatkannya, sehingga menimbulkan kerusakan. seharusnya semua yang ada dialam ini kita jadikan sebagai sarana untuk berpikir akan kebesaran Allah SWT.
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.(ar ra’du: 4)”
(link : http://dkmfahutan.wordpress.com/2007/02/12/hubungan-manusia-dan-alam/ ) 

Kerusakan lingkungan sebagai pemicu terjadinya global warming atau pemanasan global dan climate challange atau perubahan iklim menyebabkan ketidakseimbangan alam semesta. Banjir, longsor, gempa bumi, angin kencang, gelombang pasang, cuaca buruk, membuat kita perlu merenung dan merumuskan kembali hubungan manusia dengan alam semesta. Manusia adalah makhluk Tuhan, begitu pula lingkungan atau alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Lalu bagaimanakah kita memposisikan hubungan ini berdasarkan Alquran ?

Di dalam Alquran surat Ar Ruum ayat 41 Allah SWT memperingatkan kerusakan lingkungan atau alam semesta ini. Dhoharol fasadu Fil Barri wal Bahri Bima Kasabat Aydinnaasi Liyudziqohum dhol Ladzi Amiluu allahum Yarjiun; Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ada beberapa catatan atas surat Ar Ruum ayat 41 ini, pertama kerusakan lingkungan sebagai pemicu terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim diungkapkan oleh Alquran dengan ungkapan dhoharol fasadu fil ardhi wal bahri dimana titik berat dari pernyataan tersebut adalah kata fasad.

Kedua, ayat ini turun 15 abad yang lalu. Itu artinya bahwa kerusakan lingkungan sudah terjadi sejak 15 abad yang lalu atau bahkan lebih. Ketiga, ayat ini turun selain menginformasikan pada kita tentang kondisi cuaca alam semesta secara umum juga memberikan peringatan kepada kita tentang kondisi cuaca alam semesta yang kritis ini.

Keempat, dengan adanya ungkapan bima kasabat aydinnaas karena perbuatan tangan manusia itu artinya manusia adalah faktor dominan atas terjadinya kerusakan lingkungan. Semua kerusakan lingkungan yang akan berujung pada pemanasan global dan perubahan ilkim berdasarkan ayat ini murni karena ulah manusia.

Lalu bagaimanakah seharusnya hubungan manusia dan lingkungan atau alam semesta ini ?, sejumlah ayat Alquran memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Kata fasad di dalam alquran yang berarti kerusakan sering dirangkai dengan kata ishlah yang berarti perbaikan. Kata fasad biasanya berarti kerusakan lingkungan sedangkan kata ishlah biasanya berarti perbaikan lingkungan.

Di dalam surat Al Arof ayat 56, dengan memperhatikan kata fasad dan kata ishlah, Allah menjelaskan tentang perilaku buruk manusia terhadap lingkungan atau alam semesta. Wal Tufsiduu Fil Ardhi da ishlahiha; Dan janganlah kamu membuat kerusakan lingkungan setelah (Allah) memperbaikinya .

Dengan metode yang sama, memperhatikan kata fasad dan kata ishlah di dalam surat As Syura ayat 150 -152 Allah SWT memerintahkan atau mewajibkan kita untuk tidak mentaati perundang undangan dan peraturan sebuah negara, bangsa, atau pemerintah manapun yang memiliki undang undang atau peraturan yang tidak ramah lingkungan.

150. Fattaqullah Wa Athiun ( Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;) 151. Wa La Tuthiuu Amrol Musrifin (Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas,)  152. Alladzina Yufsidun Fil Ardhi Wa La Yushlihun ( Yang membuat kerusakan lingkungan dan tidak pernah mengadakan perbaikan lingkungan". )

Begitu pula di dalam surat Albaqoroh ayat 11, Allah SWT mengecam sikap orang orang munafik yang mengklaim atau mengaku dirinya sebagai mushlih atau orang orang yang selalu mengadakan perbaikan lingkungan, padahal sebaliknya ia adalah sebagai seorang mufsid atau perusak lingkungan.

Wa Idza Qila Lahum La Tufsiduu Fil Ardhi Qoluu Innama Nahnu Mushlihun; Dan bila dikatakan kepada mereka orang orang munafik: "Janganlah kamu membuat kerusakan lingkungan". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan lingkungan."

Kerusakan lingkungan yang diungkapkan dengan istilah fasad di dalam Alquran dan perbaikan lingkungan yang diistilahkan dengan kata ishlah betul betul menjadi informasi yang sangat berharga bagi kita semua di dalam menghadapi isu global warming pemanasan global dan isu climate challenge perubahan iklim. Mudah mudahan kita semua termasuk orang-orang muslih orang orang yang dapat memperbaiki lingkungan bukan orang orang mufsid yaitu orang orang yang merusak lingkungan, amin ya rabbal alamin.

*) Penulis adalah ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Indramayu


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar